hmm let's see
dari smp sebenernya gue udah hidup berdampingan sama kpopers dan dicekokin kpop
tapi, gue tetep kekeuh sama virus kdrama
sampe suatu ketika di tingkat kuliah
gue ketemu sama makhluk2 ajaib sebut saja apres dan vene
mereka memperkenalkan gue dan memperlihatkan MV MONSTER milik BIGBANG
sebenernya dari sma juga gue udah tau BIGBANG
gue juga punya temen vip, sedikit penjelasan kalo vip adalah sebutan buat fansnya BIGBANG
tapi, baru disaat gue nonton MV MONSTER itulah gue terhenyak
menyadari kekerenan para personil BIGBANG
and finally, i be VIP :D
gue akhirnya menyadari betapa kerennya mereka
dan gue juga nemu jawaban yang selama ini gue bingungin, kenapa orang bisa teriak histeris pas nonton MV atau liat kpop kpop itu
ya, mereka mampu membuat gue teriak histeris, terhenyak dan selalu bangun dari kebosanan, keBTan dan bad mood gue yang amat sangat parah
welcome BIGBANG into my life
and now i'm proud to be VIP
salam keren buat para senior VIP hahahaha
Kamis, 21 Juni 2012
berlawanan di waktu yang bersamaan
pikiran
pilihan
keputusan
ya, hidup adalah hal2 itu
kapan memikirkan
kapan memilih
kapan memutuskan
bagaimana
ya, bagaimana
itulah pengaruh karakter
tiap karakter membawa kita menuju jalan yang berbeda tentang 3 hal itu
lupa, ingat
senang, sedih
bosan, kesal, ceria
itulah pilihan
terkadang kita dihadapkan pada pilihan yang wajib
namun, itulah sifat dasar manusia
pembangkang
pemberontak
tak mau tunduk walau dengan kata wajib
pilihan menjadi sebuah alasan klise yang klasik
bagi para pembangkang sejati
pemberontak tulen
mungkin, banyak orang meyakini yang terkeras di dunia adalah batu
namun, dunia harus menyadari
bahwa pribadi manusia jauh lebih keras
lebih sulit dihancurkan dan diubah
dibanding batu manapun yang terbesar di dunia
bahkan yang ada di luar angkasa
ya, manusia lah yang terkeras
pikiran, hati dan keyakinannya
tau itu yang harusnya dilakukan
tapi sekedar niat
bahkan terkadang niat pun tak tersketsakan
keras hati
keras kepala
mungkin terkadang baik tapi tak mungkin selamanya baik
mungkin juga menyulitkan tapi juga mungkin tak selamanya menyulitkan
memilih untuk mempertahankan mengingat dan tak melupakan
mungkin bisa dikenang baik
tapi pasti tak selamanya benar2 baik
layaknya makanan yang terus disimpan
mungkin dipikir baik namun kelamaan akan membusuk
saat mempertahankan
mungkin saat itu juga kehilangan
terlewatkan sesuatu yang baik bahkan mungkin yang lebih baik
pilihan
keputusan
ya, hidup adalah hal2 itu
kapan memikirkan
kapan memilih
kapan memutuskan
bagaimana
ya, bagaimana
itulah pengaruh karakter
tiap karakter membawa kita menuju jalan yang berbeda tentang 3 hal itu
lupa, ingat
senang, sedih
bosan, kesal, ceria
itulah pilihan
terkadang kita dihadapkan pada pilihan yang wajib
namun, itulah sifat dasar manusia
pembangkang
pemberontak
tak mau tunduk walau dengan kata wajib
pilihan menjadi sebuah alasan klise yang klasik
bagi para pembangkang sejati
pemberontak tulen
mungkin, banyak orang meyakini yang terkeras di dunia adalah batu
namun, dunia harus menyadari
bahwa pribadi manusia jauh lebih keras
lebih sulit dihancurkan dan diubah
dibanding batu manapun yang terbesar di dunia
bahkan yang ada di luar angkasa
ya, manusia lah yang terkeras
pikiran, hati dan keyakinannya
tau itu yang harusnya dilakukan
tapi sekedar niat
bahkan terkadang niat pun tak tersketsakan
keras hati
keras kepala
mungkin terkadang baik tapi tak mungkin selamanya baik
mungkin juga menyulitkan tapi juga mungkin tak selamanya menyulitkan
memilih untuk mempertahankan mengingat dan tak melupakan
mungkin bisa dikenang baik
tapi pasti tak selamanya benar2 baik
layaknya makanan yang terus disimpan
mungkin dipikir baik namun kelamaan akan membusuk
saat mempertahankan
mungkin saat itu juga kehilangan
terlewatkan sesuatu yang baik bahkan mungkin yang lebih baik
terus dihantui dan terus berlari
berdiri tegak di depan sebuah benda
cukup besar dan panjang, penuh warna
terkadang jujur terkadang klise
ya, sebuah cermin
menatap diri sendiri dan tak beranjak
sebatas waktu berlalu, tetap tak beranjak
terlintas sebuah kata
MONOTON
ya, kata yang terlintas itu
begitu tajam
yang bahkan mungkin terlampau jujur
seberapa lama menatap diri
tetap tak ditemukan jawaban
bagaimana bisa
menilai sifat dari sebuah benda
yang tak pasti kejujuran dan keakuratannya
bagai dua tokoh yang berdialog
hati ini menjadi seperti meja hijau
tempat perdebatan penuh keegoisan
merasa tersiksa
ya, tak terpungkiri
merasa sedih
sepenuhnya dirasakan sebagai manusia
ingin berubah namun tak sanggup
sebuah alasan klasik yang terus terpakai
jeritan hati
goresan luka
semua menjadi hiasan dalam hati ini
pasti, inilah suatu kebodohan
mendengar, mencerna dan tak melupakan
kata2 yang bahkan tak diingat lagi
oleh bibir yang menggulirkannya
terus berjalan
memaksa diri untuk berlari
dan akhirnya, terbiasa untuk menghindar
bukan, bukan melupakan
karna dipastikan itu tak bisa
hanya berusaha menghindari
suatu memori yang tercipta
dari sebuah otak yang menyedihkan
berpikir untuk memberi tau dunia
dan berharap dikasihani
ya, lagi2 kebodohan
tak ada kata kasihan
tak ada simpatik
yang ada hanya tatapan dan kata2 sinis
merasa ingin
dan bisa dipedulikan
lagi2 bodoh
merasa bisa merubah diri
berusaha menjadi sosok pribadi yang lain
inilah puncak kebodohannya
hal itu tetap terjadi
monoton, sinis
terus dihantui dan terus berlari
cukup besar dan panjang, penuh warna
terkadang jujur terkadang klise
ya, sebuah cermin
menatap diri sendiri dan tak beranjak
sebatas waktu berlalu, tetap tak beranjak
terlintas sebuah kata
MONOTON
ya, kata yang terlintas itu
begitu tajam
yang bahkan mungkin terlampau jujur
seberapa lama menatap diri
tetap tak ditemukan jawaban
bagaimana bisa
menilai sifat dari sebuah benda
yang tak pasti kejujuran dan keakuratannya
bagai dua tokoh yang berdialog
hati ini menjadi seperti meja hijau
tempat perdebatan penuh keegoisan
merasa tersiksa
ya, tak terpungkiri
merasa sedih
sepenuhnya dirasakan sebagai manusia
ingin berubah namun tak sanggup
sebuah alasan klasik yang terus terpakai
jeritan hati
goresan luka
semua menjadi hiasan dalam hati ini
pasti, inilah suatu kebodohan
mendengar, mencerna dan tak melupakan
kata2 yang bahkan tak diingat lagi
oleh bibir yang menggulirkannya
terus berjalan
memaksa diri untuk berlari
dan akhirnya, terbiasa untuk menghindar
bukan, bukan melupakan
karna dipastikan itu tak bisa
hanya berusaha menghindari
suatu memori yang tercipta
dari sebuah otak yang menyedihkan
berpikir untuk memberi tau dunia
dan berharap dikasihani
ya, lagi2 kebodohan
tak ada kata kasihan
tak ada simpatik
yang ada hanya tatapan dan kata2 sinis
merasa ingin
dan bisa dipedulikan
lagi2 bodoh
merasa bisa merubah diri
berusaha menjadi sosok pribadi yang lain
inilah puncak kebodohannya
hal itu tetap terjadi
monoton, sinis
terus dihantui dan terus berlari
teman yang terpaksa dijadikan teman
sepi, sendiri
kesendirian menyelimuti hariku yang diwarnai berbagai macam canda
dalam ramai ku merasa sepi
terlebih lagi di saat sendiri
kurasakan pekatnya sepi itu
ku terpaku, terhenyak dalam diam
tanpa kata, tanpa ekspresi
tak ada yang tau gelutan dalam hati
orang meyakini saat seseorang tertawa dia benar2 tertawa
tapi aku percaya tak selamanya orang tertawa itu benar2 tertawa
tak selamanya orang yang diam itu baik2 saja
bahkan dalam diam, ada banyak rasa yang berpelut
terkadang kurasakan jeritan dalam hati ini
pekik yang begitu keras meminta didengar
namun jeritan itu ku kubur dalam dan kubalut dengan diam
kuyakinkan orang dengan senyum dan juga tawa
kuyakin tak semua percaya
tapi ku juga tau pasti
yang di sekitarku tak sepenuhnya peduli
merasa sendiri sepi sebenarnya pilihan
ku tak ingin memilihnya
namun kuyakin itu terpilih dengan sendirinya
terkadang ada orang yang memilihkan jalan lain
jalan yang lebih ramai, membahagiakan
namun lagi2 kesepian itu terlahir dalam diri
tak peduli sekeliling seperti apa
aku tetap sendiri dalam sepi
bukan ingin sendiri
bukan juga memilihnya
namun terbiasa, di paksa untuk membiasakan diri terhadap kesendirian
jiwaku bergelut salam sepi
sering kali sepi ini menjadi musuh
namun sepertinya ku harus membuatnya menjadi teman
berteman dengan kesendirian
bukanlah hal yang diinginkan
sungguh jauh di sana
kuharapkan datang keramaian
datang perubahan
adanya pembelaan
yang menggeser teman yang terpaksa dijadikan teman
kesendirian menyelimuti hariku yang diwarnai berbagai macam canda
dalam ramai ku merasa sepi
terlebih lagi di saat sendiri
kurasakan pekatnya sepi itu
ku terpaku, terhenyak dalam diam
tanpa kata, tanpa ekspresi
tak ada yang tau gelutan dalam hati
orang meyakini saat seseorang tertawa dia benar2 tertawa
tapi aku percaya tak selamanya orang tertawa itu benar2 tertawa
tak selamanya orang yang diam itu baik2 saja
bahkan dalam diam, ada banyak rasa yang berpelut
terkadang kurasakan jeritan dalam hati ini
pekik yang begitu keras meminta didengar
namun jeritan itu ku kubur dalam dan kubalut dengan diam
kuyakinkan orang dengan senyum dan juga tawa
kuyakin tak semua percaya
tapi ku juga tau pasti
yang di sekitarku tak sepenuhnya peduli
merasa sendiri sepi sebenarnya pilihan
ku tak ingin memilihnya
namun kuyakin itu terpilih dengan sendirinya
terkadang ada orang yang memilihkan jalan lain
jalan yang lebih ramai, membahagiakan
namun lagi2 kesepian itu terlahir dalam diri
tak peduli sekeliling seperti apa
aku tetap sendiri dalam sepi
bukan ingin sendiri
bukan juga memilihnya
namun terbiasa, di paksa untuk membiasakan diri terhadap kesendirian
jiwaku bergelut salam sepi
sering kali sepi ini menjadi musuh
namun sepertinya ku harus membuatnya menjadi teman
berteman dengan kesendirian
bukanlah hal yang diinginkan
sungguh jauh di sana
kuharapkan datang keramaian
datang perubahan
adanya pembelaan
yang menggeser teman yang terpaksa dijadikan teman
Langganan:
Komentar (Atom)