berdiri tegak di depan sebuah benda
cukup besar dan panjang, penuh warna
terkadang jujur terkadang klise
ya, sebuah cermin
menatap diri sendiri dan tak beranjak
sebatas waktu berlalu, tetap tak beranjak
terlintas sebuah kata
MONOTON
ya, kata yang terlintas itu
begitu tajam
yang bahkan mungkin terlampau jujur
seberapa lama menatap diri
tetap tak ditemukan jawaban
bagaimana bisa
menilai sifat dari sebuah benda
yang tak pasti kejujuran dan keakuratannya
bagai dua tokoh yang berdialog
hati ini menjadi seperti meja hijau
tempat perdebatan penuh keegoisan
merasa tersiksa
ya, tak terpungkiri
merasa sedih
sepenuhnya dirasakan sebagai manusia
ingin berubah namun tak sanggup
sebuah alasan klasik yang terus terpakai
jeritan hati
goresan luka
semua menjadi hiasan dalam hati ini
pasti, inilah suatu kebodohan
mendengar, mencerna dan tak melupakan
kata2 yang bahkan tak diingat lagi
oleh bibir yang menggulirkannya
terus berjalan
memaksa diri untuk berlari
dan akhirnya, terbiasa untuk menghindar
bukan, bukan melupakan
karna dipastikan itu tak bisa
hanya berusaha menghindari
suatu memori yang tercipta
dari sebuah otak yang menyedihkan
berpikir untuk memberi tau dunia
dan berharap dikasihani
ya, lagi2 kebodohan
tak ada kata kasihan
tak ada simpatik
yang ada hanya tatapan dan kata2 sinis
merasa ingin
dan bisa dipedulikan
lagi2 bodoh
merasa bisa merubah diri
berusaha menjadi sosok pribadi yang lain
inilah puncak kebodohannya
hal itu tetap terjadi
monoton, sinis
terus dihantui dan terus berlari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar